Dikirim Oleh |
: | Reporter |
Tanggal |
: | Senin, 1 Februari 2010 12:58:58 |
Dibaca |
: | 1091 Kali |
Suatu Terobosan Kreatif
Setelah manusia tumbuh dalam kehidupan berdunia yang berporoskan nafsu dan watak akunya, mata hatinya lalu menjadi buta sama sekali.
Akibatnya, manusia tidak lagi percaya bisa mengenali-Nya, apalagi hingga sampai bertemu dengan-Nya.
Menurut keyakinan manusia sejati, Tuhan telah menyiapkan terobosan kreatif bagi umat beragama (siapa saja, agama apa saja) yang merasa butuh kepada-Nya, sebagai wujud belas kasih-Nya kepada mereka.
Yaitu, membentuk di tengah-tengah mereka seorang pembimbing sejati (syaikh atau guru mursyid) yang akan menunjukkan Keberadaan-Nya Yang Al-Ghaib dan menuntun hamba-Nya di jalan lurus menuju kepada-Nya, hingga sampai dengan selamat kembali kepada-Nya.
Sang pembimbing (yang tidak akan pernah berani mengaku, karena tidak merasa menjadi Guru) ini pertama-tama mengisikan butiran iman (Nur Ilahi) ke dalam rasa hati murid (orang yang berkehendak bertemu Tuhannya).
Hal ini kemudian menghidupkan dan mencerahkan hati, ruh, dan rasanya, sehingga mencahaya dengan senantiasa mengingat-ingat dan menghayati Keberadaan Diri-Nya Ilahi.
Mengubah dirinya menjadi insan cahaya Tuhan, Lalu, si murid selalu berusaha mengikuti petunjuk Sang Pembimbing demi keberhasilannya memenangkan perang terbesar (jihadunnafs) yang mau tak mau mesti diperjuangkan seumur hidupnya di dunia ini.
Proses ini diyakini kemudian akan mendatangkan fadhal dan rahmat Tuhannya yang menyampaikannya kepada tujuan hidup dan cita-cita bertemu dengan Tuhannya.
Kebutuhan murid sufi terhadap mengadanya seorang guru sejati baginya menjadi sangat penting dan perlu sekali, karena dia sangat menyadari begitu samarnya (bagai sehelai rambut dibelah tujuh) jalan menuju kepada-Nya.
Juga, begitu halusnya (hingga tak disadari) bujuk rayu dan godaan setan dan iblis, serta adanya (selama umur hidupnya di dunia) ajakan nafsu yang selalu menyalahi kehendak-Nya dengan memerankan watak akunya.
Oleh karena itu, sang pembimbing sejati mestilah mempunyai martabat mursyidun, murbiyyun, nashihun dan sekaligus kamilun, di dalam menjalankan tugasnya membimbing murid sufi menuju keberhasilan cita-citanya.


Dikirim Oleh
Tanggal
Dibaca
Versi PDF
Versi Cetak



Kirim Pesan