Dikirim Oleh |
: | ninakania |
Tanggal |
: | Rabu, 11 November 2009 17:22:22 |
Dibaca |
: | 299 Kali |
Perjuangan tidak mengenal batas. Apa saja yang kita berikan untuk kebaikan adalah berjuang. Perjuangan adalah nafas dan naluri kehidupan setiap hari.
Kita memang harus
berjuang, karena di sanalah habibat kemanusiaan dan ke-musliman kita....
Kita Harus Berjuang
Kota suci Makkah, awal masa kenabian. Ruas-ruas waktu serasa berjalan
sangat lamban, seakan turut mengeja duka yang dirasa Rasulullah atas
kebengisan orang-orang Quraisy. Seperti hari itu, Rasulullah sedang
shalat di sekitar Ka'bah. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya
duduk-duduk memandangi Rasulullah. Mereka saling berseloroh, "Siapa
yang berani mengambil isi perut onta dari si fulan lalu menimbunkannya
ke atas pundak Muhammad ketika is sujud?" Maka pergilah salah seorang
mereka mengambil isi perut onta itu. Ketika Rasulullah sujud,
secepatnya is timbunkan kotoran itu ke punggungnya.
Rasulullah terus sujud. Sementara orang-orang kafir yang najis itu
terpingkal-pingkal dan saling memandangi satu sama lain. Rasulullah
tidak mengangkat sujudnya. Hingga Fatimah, putri tercintanya datang
membersihkan kotoran itu. Rasulullah segera bangkit, lalu menengadahkan
do'a. "Ya Allah balaslah orang-orang Quraisy itu."
Di kali lain, Rasulullah berjalan di lorong Mak¬kah. Tiba-tiba
orang-orang Quraisy mengguyurkan tanah ke atas kepalanya. Rasulullah
bergegas pulang. Setibanya di rumah, putri tercintanya mena¬ngis
melihat apa yang dialami ayahnya. la lantas membersihkan tanah itu.
Rasulullah menghibur putrinya, 'Wahai anakku, janganlah engkau
mena¬ngis. Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu."
Kisah di atas bukan sekadar penggalan sirah Rasulullah yang mulia.
Lebih dari itu, is juga sebuah sikap. Bahkan sebuah deklarasi yang
menjelaskan kepada kita, bahwa perjuangan -dalam konteks apapun- selalu
berat.
Kali pertama agama ini diturunkan, ia diturunkan dalam garis dan rel
perjuangan. Sebagaimana para Rasul sebelumnya harus berjuang keras
menyampaikan wahyu kepada kaum mereka. Sebagian dari mereka terbunuh,
sebagian besar lainnya dilecehkan, dianiaya, disiksa dan diusir. Agama
ini memang tidak tegak dalam sekejap. Tidak juga teguh dengan biaya
murah.
Berjuta-juta jiwa gugur dan tertanam di bumi. Berjuta-juta nyawa pulang
ke hadapan Allah. Berjuta-juta tubuh bergelimang darah dan air mata.
Berjuta jiwa tercekam, terusir, terasing, terpinggirkan, bahkan
tenlindas arogansi orang-orang yang dzalim. Semuanya demi tegaknya
agama Islam. Dengan jelas Allah berfirman, "Apakah kamu me¬ngira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan)
sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS. AI-Baqarah: 214).
Ketegaran Rasulullah juga memberi penega¬san lain. Bahwa perjuangan
tidak saja soal berat dan bebannya. Tapi juga sebuah
ekspektasikeba¬hagiaan jiwa. Artinya, perjuangan yang benar akan
memberi samudera bahagia di tengah mata air derita. Memberi makna
keberartian di tengah peminggiran dan pengusiran. Memberi rasa
pengharapan dan kepasrahan mendalam kepada Allah di tengah penindasan
dan kesewenang¬wenangan. Sekali lagi, perjuangan adalah sungai bahagia
yang menganak panjang. Hulunya adalah janji dan jaminan Allah. Hilirnya
adalah kemenang¬an dan peneguhan.
Itulah rahasia terbesar para pejuang. Sekaligus argumen terkuat mengapa
perjuangan selalu melahirkan orang-orang perkasa, tegar, kokoh, meski
ada juga orang-orang munafik yang mendompleng.
Maka, dengan sangat terang kita bisa merasakan betapa di tengah segala
kegilaan orang-orang Quraisy itu, Rasulullah tetap tegar. Karenanya,
keti¬ka sekelumit kegamangan mampir dalam diri saha¬bat, Rasulullah
dengan penuh kasih menghibur mereka. Rasulullah lantas mengisahkan
bagai¬mana para pendahulu mereka juga menghadapi hal yang sama,
disiksa, dianiaya, dibunuh, atau dikubur hidup-hidup. 'Tetapi
siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk
mem¬pertahankan agama," jelas Rasulullah. Kemudian ia menambahkan,
"Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri semua persoalan ini, sehingga
orang berani berjalan dari Shan'a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada
siapapun selain Allah, dan hanya takut kambingnya disergap serigala.
Tetapi kalian tampak buru-buru."
Di sisi lain, Rasulullah juga harus berjuang di jalur kehidupannya yang
wajar sebagai manusia di dunia. Menambal bajunya sendiri, mencari
naf¬kah untuk keluarganya, dan membantu istrinya di rumah. Rasulullah
tidak saja tegar di medan da'wah, tapi juga tegar dalam mencintai
umatnya, sahabat¬sahabatnya, anak-anak dan juga istrinya. Maka, ketika
istri-istrinya pada suatu hari meminta kenai¬kan nafkah, Rasulullah pun
sedih dan haws berju¬ang menyelesaikan urusan duniawi tersebut.
Berju¬ang meluluhkan hati para istrinya. Hingga akhimya mereka ridha
dengan apa yang telah diberikan Rasulullah.
Itu menunjukkan sisi lain dari sebuah perjuangan. Bahwa hidup di dunia
ini juga dilahirkan di atas rel perjuangan: perjuangan untuk hidup.
Perjuangan untuk memenuhi hak¬hak orang lain. Perjuangan untuk hidup di
atas jalan yang lurus sesuai aturan Allah. Perjuangan untuk melawan
godaan hawa nafsu dan rayuan syetan. Perjuangan untuk mengejar kehendak
dan cita-cita. Termasuk, perjuangan untuk me¬nyambung hidup itu
sendiri, dengan nafas-na¬fas dunia dan pengharapan kepada hari akhirat.
Setiap kita punya cara sendiri untuk hidup. Itu tak soal. Di
jalan-jalan raya yang keras, di kantor-kantor megah yang sejuk, di
kampus¬-kampus yang gegap gempita, di tengah samudera yang
bergelombang, di sawah-sawah dan ladang-ladang yang tenang, di
rumah-rumah yang pengap maupun lapang, di batik deru mesin-mesin
industri yang bising, di dalam lorong panjang pertambangan yang
men¬cekam, setiap hari, setiap waktu, setiap orang menyambung
nafas-nafas kehidupannya. Ada berjuta cara untuk hidup. Tetapi,
perjuangan hanya kosakata untuk cara hidup yang lurus. Perjuangan hanya
bahasa untuk pengorbanan yang benar. Maka, menyambung hidup dengan cara
kotor, licik, dan kerdil sama sekali bukan perjuangan. Sampai pun bila
hidup secara kotor lebih melelahkan dan lebih memakan pengor¬banan.
Hidup adalah perjuangan, dalam konteks dunia maupun akhirat, dalam
kepentingan agama maupun kepentingan kemanusiaan. Membangun sarana
pendidikan adalah ber-juang, menyantuni anak-anak yatim, mencari
nafkah, menyayangi dan mendidik anak-anak, mendirikan tempat-tampat
pengobatan gratis, menyuarakan kebenaran dihadapan penguasa,
meninggikan syiar agama adalah berjuang.
Perjuangan tidak mengenal batas. Apa saja yang kita berikan untuk
kebaikan adalah berjuang. Perjuangan adalah nafas dan naluri kehidupan
setiap hari. Kita memang harus berjuang, karena di sanalah habibat
kemanusiaan dan ke¬musliman kita. Karena di sanalah tempat kita
menabung, untuk dipanen anak cucu kita sebagai amal jariyah, atau kita
panen sendiri di akhirat kelak sebagai amal kebaikan


Dikirim Oleh
Tanggal
Dibaca
Versi PDF
Versi Cetak



Kirim Pesan