Dikirim Oleh |
: | ninakania |
Tanggal |
: | Jum`at, 7 Agustus 2009 11:56:56 |
Dibaca |
: | 221 Kali |
Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya
ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya
titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya
titipan Nya
Tetapi, mengapa aku
tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia
menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki
hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku
justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh
Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai
ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan
panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih
banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak
popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.
Seolah semua
"derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan
kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
"aku rajin
beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia
kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah
mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia
membalas "perlakuan baikku" dan
menolak keputusan
Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari
kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...
"Ketika langit
dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
WS Rendra
Alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.


Dikirim Oleh
Tanggal
Dibaca
Versi PDF
Versi Cetak



Kirim Pesan