Dikirim Oleh |
: | ninakania |
Tanggal |
: | Rabu, 22 April 2009 15:39:07 |
Dibaca |
: | 188 Kali |
Kisah para perempuan tumpuan ekonomi keluarga. Upah mereka yang hanya
seliter beras tak cukup untuk
menyekolahkan anak.
Awal Maret 2007. Siang itu terik matahari
menyinari Bogor, kota yang sehari-hari
diguyur hujan. Maryanah dan lima
temannya berteduh di bawah pohon
belimbing, di sisi peron depo
Stasiun Kereta Api Bogor. Mereka menunggu
kereta listrik datang dari Jakarta untuk dibersihkan. Sembari menunggu, perempuan menjelang 50 tahun itu bercengkerama dengan rekan-rekan kerjanya. Mereka menyantap buah
belimbing yang jatuh dari pohon itu.
Seperti biasa, rangkaian kereta yang harus mereka bersihkan datang terlambat. Setelah hampir tiga jam menanti, di ujung lintasan
muncul lokomotif memasuki depo. Maryanah menarik nafas lega.
Segera ia
dan rekan-rekannya menyingsingkan lengan baju. Sapu, sikat, dan
ember segera mereka sambar. Pekerjaan siap dimulai.
Dengan cekatan tangan keriput Maryanah menggosok atap dan dinding gerbong
yang penuh gambar tempel dan coretan.
Perempuan bertubuh sedang itu naik turun
bangku untuk menggapai gambar tempel yang mengotori gerbong. Kadang ia harus
bergelantungan. Satu kakinya bertumpu
pada bangku, dan satu tangan
berpengangan tiang. Dalam hitungan menit, nafasnya mulai terengah-engah.
Lebih dari dua jam Maryanah dan lima rekannya
menyiram, menyikat, menggosok, dan mengelap bagian dalam gerbong kereta
listrik kelas ekonomi itu. Seluruh bagian
gerbong tak luput dari jamahan
tangan mereka. Gerbong kereta yang harus mereka bersihkan siang itu luar
biasa kotor. Mulai dari lantai gerbong
yang penuh sampah dan jejak alas kaki hingga dinding yang penuh gambar tempel
promosi.
Membersihkan gerbong kereta
listrik tak hanya berat, tapi
juga penuh risiko. Jika tidak hati-hati,
mereka bisa tersengat listrik. Karena itu Maryanah selalu
memastikan mesin dan aliran listrik
kereta sudah padam sebelum membanjiri
gerbong dengan air. Namun, terkadang masinis lupa mematikan mesin kereta sebelum
meninggalkannya di depo.
"Waswas, soalnya
kalau kita kesetrum kan mati
semua," kata Maryanah.
Maryanah mengantongi Rp 5.000 untuk kerja setengah
hari. "Sebenarnya nggak sebanding. Sekarang upah lima ribu
perak, sedangkan beras seliter saja
sudah lima ribu perak," tambahnya.
Agar dapur tetap
ngebul, ibu tiga anak ini
harus memutar otak untuk membelanjakan
uangnya. Ia
tak ingin anak bungsunya yang masih duduk di
kelas III SMK putus sekolah menyusul dua kakaknya.
Untuk menghemat, warga Bojong Jengkol, Cilebut, Bogor, ini setiap hari
berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju Stasiun Cilebut. Dari sana ia menumpang gratis kereta listrik menuju Stasiun Bogor. Maryanah juga membawa bekal
makan siang dan air minum dari
rumah.
Maryanah sudah menjalani profesinya sepuluh tahun. Mulanya ia mencuci
kereta hanya pada malam hari.
Dini hari dia pulang
dengan upah Rp 2.500. Suaminya yang bekerja sebagai
tukang ojek hanya mampu mengumpulkan
Rp 20.000 per hari.
Kerja malam membuat para
tetangga bergunjing dan menuduhnya nyambi sebagai pekerja seks komersial.
Namun ia
tak peduli. Yang penting ia
bisa membeli beras. "Kebanyakan
orang bilang ini-lah, itu-lah. Walaupun kerja malam, kita
tetap saja kerja, nggak melakukan
hal yang negatif," ujarnya.
Rambutnya makin memutih. Kulitnya makin keriput. Ototnya makin lemah. Maryanah kian sering sakit-sakitan.
Jika terkena udara dingin,
tangan dan kakinya pegal-pegal. Bahkan, tak jarang
tangannya mati rasa, tak bisa
digerakkan sama
sekali.
Maryanah dan rekan-rekannya lalu meminta jam kerja siang hari. Namun permintaan
itu tidak dikabulkan atasannya. Maryanah dan teman-temannya pun mogok kerja. Akhirnya permintaan mereka dikabulkan. Sejak dua tahun lalu Maryanah bekerja
siang hari.
Kini beban hidup Maryanah
semakin berat. Sudah beberapa bulan terakhir ini suaminya
tidak lagi ngojek karena sakit.
Kata dokter, suaminya kena radang paru-paru,
akibat angin malam yang menerpa dadanya saat ngojek.
Walau biaya pengobatan suaminya cuma-cuma berkat kartu Asuransi
Kesehatan bagi Masyarakat Miskin, toh ongkos menuju
rumah sakit di Cisarua, Jawa
Barat, cukup mahal untuk kantong
Maryanah. Pemasukan keluarganya
pun turun drastis. Sepeda motor tua yang biasa digunakan suaminya untuk mencari nafkah telah digadaikan Rp 1,2 juta.
"Apa saja
yang ada saya jual," katanya. "Yang penting mah
di rumah ada uang belanja
dan untuk sekolah anak."
Beban sama
berat ditanggung Rustini, 35 tahun. Sudah setahun perempuan ini menjadi tulang
punggung ekonomi keluarga. Suaminya tidak lagi bisa bekerja karena
kakinya patah tertabrak mobil. Sang suami tak lagi bisa bekerja
sebagai buruh tani atau menggembala
kambing.
Erwin, anak sulung
Rustini, terpaksa meninggalkan bangku kelas III sekolah menengah kejuruan. Walau Erwin mendapat beasiswa penuh, Rustini tak mampu membiaya
ongkos ke sekolah Rp 5.000 sehari. "Buat
makan tiap hari saja bingung.
Nggak sanggup!" ujarnya sambil mengusap air mata.
Anak keduanya, Eneng, juga terancam putus
sekolah, walau mendapat gelar siswi SMP berprestasi. Rustini tak mampu membayar
biaya ujian Eneng. Semua barang di rumahnya sudah habis terjual. Anak sulungnya yang merintis usaha pembibitan pohon belum dapat
diandalkan untuk membantu ekonomi keluarga.
"Sekarang bayar
ujian Rp 370.000. Belum keliatan duitnya dari mana. Padahal, harus lunas tanggal
15 Maret," kata Rustini. "Pengennya
sih sekolah diterusin, tapi kayaknya nggak sanggup."
Mata Rustini menerawang.
"Sayang, pada
putus sekolah. Tapi duitnya memang nggak ada. Terpaksa.
Mau nyari bantuan,
ke mana? Sedih, sih sedih!
Tapi apa boleh buat,
nggak ada ongkos."
Penghasilan yang hanya Rp
5.000 sehari jelas tidak cukup untuk
membiayai keluarganya.
Rustini mencari pekerjaan sambilan sebagai buruh serabutan. Apa pun yang menghasilkan
uang, ia kerjakan. Kadang mencuci pakaian.
Kadang menjadi tukang masak. Tapi ia tetap
tak mampu menyekolahkan anak-anaknya.
Selesai membersihkan gerbong-gerbong kereta, Maryamah, Rustini, dan teman-temannya
beranjak membersihkan diri. Lalu mereka menemui
petugas di Stasiun Bogor untuk
mengambil upah Rp 5.000 itu. Senyum kembali menghiasi bibir Maryanah, Rustini, dan perempuan kereta
lain. Hari
ini mereka bisa membeli seliter
beras lagi. Mereka sungguh perempuan pejuang kehidupan sejati.


Dikirim Oleh
Tanggal
Dibaca
Versi PDF
Versi Cetak



Kirim Pesan