Dikirim Oleh |
: | ninakania |
Tanggal |
: | Rabu, 22 April 2009 15:03:42 |
Dibaca |
: | 284 Kali |
Islam mempunyai karakter sebagai agama yang penuh kemudahan seperti
telah ditegaskan langsung oleh Allah Swt. dalam firmanNya: "...dan Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian."
Sementara dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw. pun bersabda: "Sesungguhnya
Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat,
melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan." (HR. Muslim, dari ‘Aisyah ra.)
Visi Islam sebagai agama yang mudah di atas termanifestasi secara total
dalam setiap syari'atnya. Sampai-sampai, Imam Ibn Qayyim menyatakan, "Hakikat
ajaran Islam semuanya mengandung rahmah dan hikmah. Kalau ada yang
keluar dari makna rahmah menjadi kekerasan, atau keluar dari makna
hikmah menjadi kesia-siaan, berarti itu bukan termasuk ajaran Islam.
Kalaupun dimasukkan oleh sebagian orang, maka itu adalah
kesalahkaprahan."
Ada beberapa prinsip yang secara kuat mencerminkan betapa Islam merupakan agama yang mudah, diantaranya :
Pertama, menjalankan syari'at Islam boleh secara gradual (bertahap).
Dalam hal ini, seorang muslim tidak serta-merta diharuskan menjalankan
kewajiban agama dan amalan-amalan sunnah secara serentak. Ada tahapan
yang mesti dilalui: mulanya kita hanya diperintahkan untuk melaksanakan
kewajiban-kewajiban pokok agama. Setelah yang pokok-pokok berhasil
dilakukan dengan baik dan rapi, kalau punya kekuatan dan kesempatan,
maka dianjurkan untuk menambah dengan amalan-amalan sunnah.
Izin untuk mengamalkan syari'at Islam secara bertahap ini telah
dicontohkan oleh RasululLah Saw. sendiri. Suatu hari, seorang Arab
Badui yang belum lama masuk Islam datang kepada RasululLah Saw. Ia
dengan terus-terang meminta izin untuk sementara menjalankan
kewajiban-kewajiban Islam yang pokok saja, tidak lebih dan tidak
kurang.
Beberapa Sahabat Nabi menunjukkan kekurang-senangannya karena menilai
si Badui enggan mengamalkan yang sunnah. Tapi dengan tersenyum, Nabi
Saw. mengiyakan permintaan orang Badui tersebut. Bahkan beliau
bersabda: "Dia akan masuk surga kalau memang benar apa yang
dikatakannya."
Kedua, adanya anjuran untuk memanfaatkan aspek rukhshah (keringanan dalam praktek beragama).
Aspek Rukhshah ini terdapat dalam semua praktek ibadah, khususnya bagi
mereka yang lemah kondisi tubuhnya atau berada dalam situasi yang tidak
leluasa. Bagi yang tidak kuat shalat berdiri, dianjurkan untuk shalat
sambil duduk. Dan bagi yang tidak kuat sambil duduk, dianjurkan untuk
shalat rebahan. Begitu pula, bagi yang tidak kuat berpuasa karena
berada dalam perjalanan, maka diajurkan untuk berbuka dan mengganti
puasanya di hari-hari yang lain.
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya Allah
suka kalau keringanan-keringananNya dimanfaatkan, sebagaimana Dia benci
kalau kemaksiatan terhadap perintah-perintahNya dilakukan." (HR. Ahmad,
dari Ibn ‘Umar ra.)
Dalam sebuah perjalanan jauh, RasululLah Saw. pernah melihat seorang
Sahabatnya tampak lesu, lemah, dan terlihat berat. Beliau langsung
bertanya apa sebabnya. Para Sahabat yang lain menjawab bahwa orang itu
sedang berpuasa. Maka RasululLah Saw. langsung menegaskan: "Bukanlah
termasuk kebajikan untuk berpuasa di dalam perjalanan (yang jauh)."
(HR. Ibn Hibbân, dari Jâbir bin ‘AbdilLâh ra.)
Ketiga, Islam tidak mendukung praktek beragama yang menyulitkan.
Disebutkan dalam sebuah riwayat, ketika sedang menjalankan ibadah haji,
RasululLâh Saw. memperhatikan ada Sahabat beliau yang terlihat sangat
capek, lemah dan menderita. Maka beliau pun bertanya apa sebabnya.
Ternyata, menurut cerita para sahabat yang lain, orang tersebut
bernadzar akan naik haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah.
Maka RasululLâh Saw. langsung memberitahukan, "Sesungguhnya Allah tidak
membutuhkan tindakan penyiksaan diri sendiri, seperti yang dilakukan
oleh orang itu." (HR. Bukhâri dan Muslim, dari Anas ra.)
Demikianlah, Islam sebagai agama yang rahmatan lil' ‘alamin secara kuat
mencerminkan aspek hikmah dan kemudahan dalam ajaran-ajarannya. Dan
kita sebagai kaum muslimin, telah dipilih oleh Allah Swt. untuk
menikmati kemudahan-kemudahan tersebut. Diceritakan oleh ‘Aisyah ra.
bahwa RasululLâh Saw. sendiri dalam kesehariaannya, ketika harus
menentukan antara dua hal, beliau selalu memilih salah satunya yang
lebih mudah, selama tidak termasuk dalam dosa. (HR. Bukhâri dan Muslim)
Akan tetapi, kemudahan dalam Islam bukan berarti media untuk meremehkan
dan melalaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan. Rukhshah
tidak untuk dijadikan apologi, keringanan-keringanan dari Allah bagi
kita jangan sampai membuat kita justru menjadi jauh dariNya. Karakter
Islam sebagai agama yang mudah merupakan manifestasi nyata bahwa ajaran
Islam bukanlah sekumpulan larangan yang intimidatif, melainkan ajaran
yang menyebarkan kasih-sayang.
Sehingga dengan demikian, ketika kita menjalankan ajaran-ajaran Islam,
motivasinya sebaiknya bukan karena kita takut kepada Allah Swt., tapi
lebih karena kita rindu dan ingin lebih dekat denganNya. Bukan karena
kita ngeri akan nerakaNya, namun lebih karena kita ingin bersimpuh di
haribaanNya -di dalam surga yang abadi.


Dikirim Oleh
Tanggal
Dibaca
Versi PDF
Versi Cetak



Kirim Pesan